Label

Kamis, 03 Mei 2012

Analisis Kesalahan Berbahasa dalam Koran Surya Edisi 30 Maret 2012 :Tataran Morfologi


Disusun Oleh:
Muhammad Nurul Hidayah     (090210402113)



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang
Berbicara tentang bahasa, manusia memang memerlukan bahasa dalam berkomunikasi.Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi baik lisan maupun tulis. Artinya bahwa bahasa adalah suatu alat untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kemauan yang murni manusiawi, dengan pertolongan sistem lambang-lambang yang diciptakan dengan sengaja. Penyampaian informasi atau pesan tersebut tentunya dengan menggunakan kalimat. Maka, agar pesan yang disampaikan oleh penutur dapat diterima oleh penerima hendaknya perlu memperhatikan penyusunan kalimat efektif

Media masa merupakan   media yang digunakan untuk menyampaikan suatu pikiran, salah satunya adalah koran. Penulisan koran hendaknya memerhatikan penulisan kata atau morfem sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pengetikan.
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud  lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh (Alwi, 2003:311). Selanjutnya Werdiningsih (2006:77-78) menjelaskan bahwa kalimat adalah serangkaian kata yang tersusun secara bersistem sesuai dengan kaidah yang berlaku untuk mengungkapkan gagasan, pikiran, atau perasaan yang relatif lengkap. Kesatuan kalimat dalam bahasa tulis dimulai dari penggunaan huruf kapital pada awal kalimat dan diakhiri dengan pengunaan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya pada akhir kalimat.
Beberapa koran yang dianalisis penulis, ternyata redaksi yang bersangkutan tidak terlepas dari kesalahan-kesalahan pembentukan kata atau tataran morfologi.

1.2. Rumusan Masalah
a.      Apa kesalahan yang terjadi dalam Koran Surya?
b.      Bagaimana kesalahan itu bisa terjadi dalam Koran Surya?

1.3. Tujuan Penelitian
a.       Mengetahui  kesalahan yang terjadi dalam Koran Surya.
b.      Mengetahui bagaimana kesalahan itu bisa terjadi dalam Koran Surya.
BAB II
ISI
2.1. Landasan Teori
       Ragam tulis maupun ragam lisan dapat  terjadi kesalahan dalam pembentukan kata atau  tataran morfologi. Kesalahan berbahasa dalam tataran morfologi antara lain: penghilangan afiks, bunyi yang harus diluluhkan tetapi tidak dilulukan, peluluhan bunyi yang sesungguhnya tidak diluluhkan, penggantian morf, penyingkatan morf  mem-, men-, meng- meny-, dan menge-,pemakaian afiks yang tidak tepat, penempatan afiks yang tidak tepat pada gabungan kata, dan pengulangan kata majemuk yang tidak tepat.
a.       Penghilangan Afiks
1.      Penghilangan Prefiks meng-
Sering dijumpai dalam setiap tulisan adanya gejala penghilangan prefiks  meng- pada kata bentukan. Hal ini terjadi disebabkan oleh penghematan yang sebenarnya tidak perlu terjadi karena justru merupakan pemakaian yang salah. Memang dalam bahasa kita ada istilah “ ekonomi bahasa” artinya kita harus menggunakan bahasa sehemat mungkin, namun penghematan ini jangan sampai merusak  kaidah bahasa. Bentuk-bentuk penghilangan  awalan meng- dapat dibenarkan hanya pada kepala berita dalam surat kabar atau media cetak, sedangkan beritanya atau pada tulisan resmi lainnya untuk menghilangkan awalan  meng-  tidak dibenarkan.
2.      Penghilangan Prefiks ber-
Pemakai bahasa Indonesia menghilangkan Prefiks ber- pada kata-kata bentukan, seharusnya hal ini tidak perlu terjadi. Prefiks ber-  yang tidak dieksplisitkan tentu saja tidak dibenarkan.
b.      Bunyi yang Seharusnya Luluh Tidak Diluluhkan
Sering kita jumpai kata dasar yang berfonem awal /k/, /p/, /s/, atau  /t/ tidak diluluhkan saat mendapat prefiks meng- atau  peng-. Sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, kata yang ber fonem awal /k/, /p/, /s/, atau /t/  luluh menjadi bunyi nasal atau bunyi sengau, yaitu /s/ menjadi /ny/, /t/ menjadi /n/, /k/ menjadi /ng/ dan /p/ menjadi /m/ .

c.       Peluluhan Bunyi yang Seharusnya Tidak Luluh
Kata dasar yang berfonem /c/ sering kita lihat menjadi luluh jika mendapat prefiks meng-. Berdasarkan kaidah pembentukan kata, jika prefiks meng-  melekat pada kata dasar yang berfonem awal /c/ , maka alomorf prefiks meng-  adalah men- bukan prefiks meny-.
d.      Peluluhan Bunyi-bunyi Gugus Konsonan yang Tidak Tepat
dalam praktikya sering dijumpai pemakaian bentukan kata yang berasal dari gabungan prefiks  meng-  dan kata dasar berfonem awal gugus konsonan. Penggabungan tersebut meluluhkan gugus konsonan. Hal ini salah karena menurut kaidah bahasa Indonesia gugus konsonan /pr/, /st/, /sk/, /tr/, /sp/, atau /kl/  pada awal kata dasar tidak luluh jika dilekati dengan prefiks meng-.
e.       Penggantian Morf
1.      Penggantian Morf menge-  menjadi Morf yang Lain
sering dijumpai dalam pemakaian bahasa, terutama kata dasar yang bersulku satu. Prefiks meng- akan beralomorf menjadi menge- jika prefiks tersebut melekat pada kata dasar bersuku satu. Demikian juga jika kata dasar itu diberi prefiks per-  dan per-/-an akan menjadi  penge- dan penge-/-an.
2.      Morf be- Tergantikan Morf ber-
Kesalahan yang sering terjadi dalam pembentukan kata pada pemakaian morf be- yang tergantikan morf ber-. Hal tersebut salah karena kaidah bahasa Indonesia morf ber- akan berubah menjadi be-  jika bertemu dengan kata dasar yangg berfonem awal /r/ dan kata dasar yang suku pertamanya berakhir [er].
3.      Morf bel- Tergantikan ber-
Kasus kesalahan ditemukan pula pada pemakaian morf bel-  yang ter gantikan  ber-.  Kata dasar  ajar  dan unjur  jika dilekati prefiks  ber- maka akan menjadi  belajar dan belunjur.
4.      Morf  pe- Tergantikan Morf  per-
Kesalahan yang sering terjadi dalam pembentukan kata pada pemakaian morf pe- yang tergantikan morf per-. Hal tersebut salah karena kaidah bahasa Indonesia morf ber- akan berubah menjadi pe-  jika bertemu dengan kata dasar yangg berfonem awal /r/ dan kata dasar yang suku pertamanya berakhir [er].
5.      Morf pel- Tergantikan per-
Kasus kesalahan ditemukan pula pada pemakaian morf pel-  yang ter gantikan  per-.  Kata dasar  ajar  menjadi  pelajar  atau pelajaran.
6.      Morf te- yang Tergantikan Morf ter-
Kesalahan yang sering terjadi dalam pembentukan kata pada pemakaian morf te- yang tergantikan morf ter-. Hal tersebut salah karena kaidah bahasa Indonesia morf ter- akan berubah menjadi te-  jika bertemu dengan kata dasar yangg berfonem awal /r/ dan kata dasar yang suku pertamanya berakhir [er].
f.       Penyingkatan Morf mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-
Morfem terikat pembentuk verba yang sangat produktif dalam bahasa Indonesia adalah prefiks meng-. Alomorf prefiks meng- adalah ­mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-. Mungkin karena pengaruh bahasa daerah, pemakai sering menyingkat morf mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-  menjadi m-,n-, ng-, ny-,dan nge-. Pemakaian ini menyebabkan pemakaian bentuk kata yang salah.
g.      Penggunaan Afiks yang Tidak Tepat
1.      Penggunaan Prefiks ke-
Penggunaan bentukan kata yang berprefiks ke-  sebagai padanan dari yang berprefiks ter-. Hal ini salah karena ini merupakan pengaruh dari bahasa daerah(Jawa atau Sunda).
Contohnya  kebakar, keburu, dan ketarik yang benar adalah  terbakar, terburu, dan tertarik.
2.      Penggunaan Sufiks –ir
Pemakaian sufiks –ir  tidak tepat karena ini merupakan penyerapan dari bahasa Belanda. Sebagai penggantinya disarankan untuk menggunakan penyerapan dari bahasa Inggris yaitu –asi. Contohnya proklamir, legalisir, konfrontir  menjadi  proklamasi, legalisasi, dan konrontasi

h.      Penentuan Bentuk Dasar yang Tidak Tepat
1.      Pembentukan Kata dengan Konfiks  di-...-kan
Pembentukan kata yang sering salah adalah pada saat kata ketemu  diberi konfiks di-...-kan  sehingga kata tersebut menjadi  diketemukan. Kata tersebut tidak benar karena kata dasarnya adalah  temu, tentu bentukan kata yang benar menjadi  ditemukan..
2.      Pembentukan Kata dengan Prefiks  meng-...
Kaidah pembentukan kata yang memunyai prefiks  meng-  yang melekat pada bentuk dasar yang berfonem awal vokal /u/ alomorfnya menjadi  meng-.Prefiks  meng-  yang melekat pada bentuk dasar yang berfonem awal /p/ alomorfnya menjadi  mem-. Prefiks  meng-  yang melekat pada bentuk dasar yang berfonem awal /t/ alomorfnya menjadi  men-.
3.      Pembentukan Kata dengan Sufiks –wan
Kaidah bahasa yang baku, unsur-unsur pembentuk kata-kata ilmiah+wan menjadi ilmuan
i.        Penempatan Afiks yang Tidak Tepat pada Gabungan Kata
Sejalan dengan kaidah, gabungan kata bila mendapat prefiks dan sufiks sekaligus, maka prefiks tersebut dilekatkan di depan (sebelum) kata pertama dan sufiks diletakkan diakhir (setelah) kata kedua dengan penulisan serangkai.
j.        Pengulangan  Kata Majemuk yang Tidak Tepat.
Gabungan morfem dasar tersebut ada yang sudah berpadu benar dan ada pula yang dalam proses berpadu secara lengkap atau utuh. Kata majemuk yang sudah dianggap berpadu dengan benar jika diulang, pengulangannya berlaku seluruhnya. Kata majemuk yang belum berpadu dengan benar dalam penulisannya nasih berpisah jika diulangsebagian atau diulang  seluruhnya



2.2.  Pembahasan
Kesalahan berbahasa dalam bidang morfologi sebagian besar berkaitan dengan bahasa tulis. Kesalahan dalam bidang morfologi dapat berupa penghilangan afiks. Peluluhan bunyi yang salah dan penggantian morf.

2.2.1   Penghilangan Afiks
1)      Penghilangan Prefiks ber-
Data:
-          Saya yakin fans akan berada di belakang kami dengan kekuatan besar saat kami kembali main di kandang sendiri.
Analisis: Dari kalimat di atas terjadi kesalahan karena telah menghilangkan afiks ber- pada seharusnya ada pada kata  main. Kata main pada kalimat di atas  merupakan kata dasar yang menduduki predikat pada kalimat. Sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baku, dalam kalimat tersebut harus dieksplisitkan prefiks ber- yaitu menjadi bermain. Sehingga kalimatnya menjadi:
-          Saya yakin fans akan berada di belakang kami dengan kekuatan besar saat kami kembali bermain di kandang sendiri.
Data:
-          Ada yang beda pada hari itu.
Analisis: Dari kalimat di atas terjadi kesalahan karena telah menghilangkan afiks ber- pada seharusnya ada pada kata   beda. Kata main pada kalimat di atas  merupakan kata dasar yang menduduki predikat pada kalimat. Sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baku, dalamm kalimat tersebut harus dieksplisitkan prefiks ber- yaitu menjadi berbeda. Sehingga kalimatnya menjadi:
-          Ada yang berbeda pada hari itu.
2)      Penghilangan Prefiks meN-
Data:
-          Manajer Manchester United, Sir Alex Farguson tengah bidik gelandang muda Benfica, Axel Witsel.
Analisis: Dari kalimat di atas termasuk laimat transitif. Sesuai dengan kaidah, kalimat aktif transitif predikat kalimat harus berprefiks meN- , sehingga kalimat tersebut akan menjadi:
-          Manajer Manchester United, Sir Alex Farguson tengah membidik gelandang muda Benfica, Axel Witsel
Data:
-          Saya masih himpun data dari Kapolres Bima
Analisis: Dari kalimat di atas termasuk laimat transitif. Sesuai dengan kaidah, kalimat aktif transitif predikat kalimat harus berprefiks meN- , sehingga kalimat tersebut akan menjadi:
-          Saya masih menghimpun data dari Kapolres Bima
Data:
-          Saya sudah berikan angka-angka hitungannya
Analisis: Dari kalimat di atas termasuk laimat transitif. Sesuai dengan kaidah, kalimat aktif transitif predikat kalimat harus berprefiks meN- , sehingga kalimat tersebut akan menjadi:
-          Saya sudah berikan angka-angka hitungannya
Data:
-          Intinya partai Golkar katakan untuk saat ini tak perlu ada kenaikan harga BBM.
Analisis: Kalimat di atas termasuk kalimat  transitif. Sesuai dengan kaidah, kalimat aktif transitif predikat kalimat harus berprefiks meN- , sehingga kalimat tersebut akan menjadi:
-          Intinya partai Golkar mengatakan untuk saat ini tak perlu ada kenaikan harga BBM.


Data:
-          Kami sengaja  tampilkan  gaun ini di atas dengan latar belakang bawah Jembatan Suramadu.
Analisis: Kalimat di atas termasuk kalimat transitif. Sesuai dengan kaidah, kalimat aktif transitif predikat kalimat harus berprefiks meN-, sehingga kalimat tersebut menjadi seperti di bawah ini.
-          Kami sengaja  menampilkan  gaun ini di atas dengan latar belakang bawah Jembatan Suramadu
Data:
-          Saya cari data dimensi dari replika yang saya buat, lalu saya  cari  tenaga-tenaga ahli yang sanggup mewujudkannya.
Analisis: Pada kalimat di atas telah terjadi kesalahan berbahasa karena ada penghilangan kata afiks yang seharusya tidak hilang. Kalimat di atas termasuk kalimat aktif transitif. Sesuai kaidahnya, kalimat aktif transitif harus berprefiks  meN-, sehingga kalimat di atas menjadi:
-          Saya mencarii data dimensi dari replika yang saya buat, lalu saya  mencari  tenaga-tenaga ahli yang sanggup mewujudkannya
Data:
-          Rata-rata yang beli  orang luar negeri, saya nggak hafal lagi berapa yang sudah laku.
Analisis: Kalimat di atas merupakan kalimat transitif. Sesuai dengan kaidah kalimat aktif transitif predikat kalimat harus berprefiks meN-, sehingga kalimat tersebut berubah menjadi:
-          Rata-rata yang membeli  orang luar negeri, saya nggak hafal lagi berapa yang sudah laku.
Memang dalam bahasa Indonesia mengenal istilah “ekonomi bahasa” yang artinya kita harus menggunakan kata dengan sehemat mungkin, akan tetapi tidak merusak makna yang terkandung di dalamnya.
2.2.2   Peluluhan Bunyi yang Salah
Bunyi yang seharusnya luluh tidak diluluhkan.
Data:
-          Milan yang kesohor itu percaya warna kostum mempengaruhi hasil pertandingan
Analisis: Fonem /N/ pada morfem meN-  berubah menjadi /m/ kalau dasar kata yang mengikutinya berawal dengan fonem/b/,/f/,/p/( Tarigan, 1988:28). Dari kalimat di atas sudah jelas bahwa telah terjadi kesalahan dalam pembentukan kata. Sesuai  kaidah bahasa Indonesia kata yang bercetak miring seharusnya fonem awalnya luluh dan menjadi bunyi nasal atau bunyi sengau. Bentuk baku atau perbaikan dari kalimat di atas adalah:
-          Milan yang kesohor itu percaya warna kostum memengaruhi hasil pertandingan
Data:
-          Ibu Indah Wati mempunyai penyakit kanker theroit stadium tiga.
Analisis: Fonem /N/ pada morfem meN-  berubah menjadi /m/ kalau dasar kata yang mengikutinya berawal dengan fonem/b/,/f/,/p/( Tarigan, 1988:28). Dari kalimat di atas sudah jelas bahwa telah terjadi kesalahan dalam pembentukan kata. Sesuai  kaidah bahasa Indonesia kata yang bercetak miring seharusnya fonem awalnya luluh dan menjadi bunyi nasal atau bunyi sengau. Bentuk baku atau perbaikan dari kalimat di atas adalah:
-          Ibu Indah Wati memunyai penyakit kanker theroit stadium tiga.
Data:
-          Sejak tahun 2008 lalu Eko Hadiprayitno mulai mengkonsumsi Sari Bubuk Kedelai Murni Metabolis setelah membaca artikel kesehatan di koran.
Analisis: Fonem /N/ pada morfem meN-  berubah menjadi /ng/ kalau dasar kata yang mengikutinya berawal dengan fonem/k/( Tarigan, 1988:28). Sesuai  kaidah bahasa Indonesia kata yang bercetak miring seharusnya fonem awalnya luluh dan menjadi bunyi nasal atau bunyi sengau. Bentuk baku atau perbaikan dari kalimat di atas adalah:
-          Sejak tahun 2008 lalu Eko Hadiprayitno mulai mengonsumsi  Sari Bubuk Kedelai Murni Metabolis setelah membaca artikel kesehatan di koran.
2.2.3    Penggantian Morf
Data:
-          Namun. Pada bulan desember 2011 saat saya mencek ke lokasi masih berupa sawah, belum ada pengurukan tanah apalagi pembangunan rumah.
Analisis: Prefiks meN- akan beralomorf menjadi  menge-  jika melekat pada kata dasar yang bersuku satu. Seperti pada kalimat di atas prefiks meN-  melekat pada kata cek sehingga kata tersebut berubah menjadi  mengecek. Maka kalimat di atas seharusnya:
-          Namun. Pada bulan desember 2011 saat saya mengecek ke lokasi masih berupa sawah, belum ada pengurukan tanah apalagi pembangunan rumah.
2.2.4    Penyingkatan Morf mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-
Data:
-          The Special One  akan ngotot membawa pasukannya melaju ke final.
Analisis: Morfem terikat pembentuk verba yang sangat produktif dalam bahasa Indonesia adalah prefiks meng-. Alomorf prefiks meng- adalah ­mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-. Mungkin karena pengaruh bahasa daerah, pemakai sering menyingkat morf mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-  menjadi m-,n-, ng-, ny-,dan nge-. Hal ini salah jika dilihat sesuai kaidah. Seharusnya kalimat tersebut adalah:
-          The Special One  akan mengotot membawa pasukannya melaju ke final.
2.2.5   Penulisan Afiks yang salah
Data:
-          Kanker di definisikan sebagai pertumbuhan pertumbuhan tidak terkontrol, sel-sel yang menyerang dan menyebabkan kerusakan  pada jaringan sekitarnya.
-          Semua penyakit tersebut  jika tidak di Diagnosis dan di Obati  sejak dini.
-          Begitu juga Klinik Harapan Sehat yang sudah di percaya di kalangan masyarakat bisa mengatasi berbagai penyakit kanker payudara, nasofaring, getah bening/ kelenjar theroit, kulit, limforma, rahim, pankreas dan penyakit dalam seperti strok, diabetes, liver dan lain-lain, cara pengobatannya denganmetode Tradisional Chanese Madicene (TCM), akupuntur dan di gabungkan dengan pengobatan modern, pengobatan tersebut tanpa Operasi, begitu juga yang di alami oleh ibu Indah Wati yang mempunyai penyakit kanker kelenjar theroit......
Analisis: Pada kalimat di atas telah terjadi kesalahan penulisan, karena penulisan afiksasi harus digabung dengan karena jika dipisah malah menjadi kata depan atau oposisi. Sesuai kaidah penulisan maka kalimat tersebut menjadi:
-          Kanker didefinisikan sebagai pertumbuhan pertumbuhan tidak terkontrol, sel-sel yang menyerang dan menyebabkan kerusakan  pada jaringan sekitarnya.
-          Semua penyakit tersebut  jika tidak didiagnosis dan diobati  sejak dini.
-          Begitu juga Klinik Harapan Sehat yang sudah dipercaya di kalangan masyarakat bisa mengatasi berbagai penyakit kanker payudara, nasofaring, getah bening/ kelenjar theroit, kulit, limforma, rahim, pankreas dan penyakit dalam seperti strok, diabetes, liver dan lain-lain, cara pengobatannya denganmetode Tradisional Chanese Madicene (TCM), akupuntur dan digabungkan dengan pengobatan modern, pengobatan tersebut tanpa Operasi, begitu juga yang dialami oleh ibu Indah Wati yang memunyai penyakit kanker kelenjar theroit......
2.2.6   Penulisan bahasa asing yang salah
Apabila dalam penggunaan bahasa suatu kata tidak ada dalam bahasa Indonesia maka penulisan harus dicetak miring untuk membedakan dengan kata dalam bahasa Indonesia
Data:
-          Setelah hasil dari check up  laboratorium dan ST scain mengatakan bahwa sel-sel kanker sudah hilang
-          Polisi sempat menyemprotkan air dari kendaraan water cannon.      
Analisis: Pada kalimat di atas telah terjadi kesalahan penulisan karena ada penulisan kata asing tidak dicetak miring, seharusnya kata dalam bahasa asing dicetak miring seperti di bawah ini.
-          Setelah hasil dari check up  laboratorium dan ST scain mengatakan bahwa sel-sel kanker sudah hilang.
-          Polisi sempat menyemprotkan air dari kendaraan water cannon.
BAB III
PENUTUP
3.1  Simpulan
Berbicara tentang bahasa, manusia memang memerlukan bahasa dalam berkomunikasi. Media masa merupakan   media yang digunakan untuk menyampaikan suatu pikiran, salah satunya adalah koran. Penulisan koran hendaknya memerhatikan penulisan kata atau morfem sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pengetikan.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kesalahan yang terjadi dalam Koran Surya terletak pada peluluhan bunya yang salah, penghilangan afiks, penulisan afiks yang salah, penyingkatan morf mem-, men-, meng-, meny-, dan menge- , penulisan bahasa asing yang salah dan penggantian morf.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan et all. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kelompok studi dan sastra. 1992. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia. Malang: YA3 Malang.
Pateda, Mansoer. 1987.  Analisis Kesalahan. Gorontalo: Nusa Indah.
Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia. Surakarta: Yuma Pustaka
Surya. Edisi jumat 30 maret 2012
Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa Bandung.
Tim Penyusun. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Tim Penyusun. 2009.  Ejaan Yang Disempurnakan. Jakarta: Bumi Aksara.
Werdiningsih, Dyah. 2002. Menulis I. Malang: FKIP Unisma.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar